UPAYA MENINGKATKAN PEMAHAMAN MATEMATIK SISWA MELALUI METODE STUDENT FACILITATOR AND EXPLAINING

UPAYA MENINGKATKAN PEMAHAMAN MATEMATIK SISWA MELALUI METODE STUDENT FACILITATOR AND EXPLAINING

(Penelitian Tindakan Kelas Di Kelas VII A MTs Ash-Shiddiqiyyah Cirebon)

  1. Latar Belakang Masalah

Kurikulum pendidikan di Indonesia akan selalu berkembang sejalan dengan perkembangan teknologi dan sumber daya manusia, perkembangan kurikulum bervariasi tidak akan berhenti dalam satu titik. Kurikulum Berbasis Kompetensi yang seluruh bentuk instrumen dalam pembelajaran diserahkan kembali kedalam satuan pendidikan hingga akan lebih tahu akan kebutuhan yang mendasar atas pembelajaran tersebut. Salah satu kegiatan yang sakral yang terkait dengan kurikulum adalah adanya evaluasi, berbagai macam bentuk evaluasi pembelajaran salah satunya evaluasi yang diselenggarakan oleh pemerintah yaitu UN (ujian Nasional) yang di laksanakan di akhir  tahun kalender pendidikan. Ujian Nasional dilaksanakan dalam rangka penentuan lulus tidaknya siswa selama tiga tahun belajar di suatu lembaga pendidikan, oleh sebab itu diharapkan siswa bersungguh-sungguh dalam mengerjakan soal Ujian Nasional. Tidak sedikit siswa yang tidak lulus dalam Ujian Nasional karena tidak bisa mengerjakan soal Ujian Nasional, salah satu mata pelajaran yang masuk dalam Ujian Nasional adalah pelajaran Matematika sekaligus yang dianggap paling sulit oleh kebanyakan siswa hingga tidak lulusnyapun dikarenakan pelajaran matematikanya tidak lulus.

Siswa MTs Ash-Shiddiqiyyah Cirebon mengalami kesulitan dalam belajar individu dengan kata lain mereka sulit dalam mengerjakan tugas-tugas pelajaran yang diberikan oleh gurunya. Alasan mereka karena tidak cukupnya waktu untuk mengerjakan tugas rumah yang diberikan oleh gurunya, siswa MTs Ash-Shiddiqiyyah Cirebon 90% siswanya adalah santri Pondok Pesantren yang merupakan satu yayasan dengan MTs Ash-Shiddiqiyah Cirebon, sehingga waktu untuk kegiatan formal dan non formal dari Pondok Pesantren tersebut begitu padat. Dengan keadaan demikian guru yang mengajar di MTs Ash-Shiddiqiyyah merasa kesulitan dalam pelaksanakan pembelajaran dikelas. Guru akan semakin bekerja keras mengajar agar siswanya mencapai ketuntasan belajar dan dapat mengerjakan soal-soal yang diberikan oleh guru. Selain itu, aspek kompetensi guru di sekolah yang akan diteliti menunjukkan bahwa sebagian guru sekolah tersebut sering membuat kesalahan-kesalahan dalam pelaksanaan pembelajaran di antaranya adalah:

1)   mengambil jalan pintas dalam pembelajaran. Artinya guru tidak membuat persiapan ketika mau melakukan pembelajaran, sehingga guru mengajar tanpa persiapan;

2)   menunggu peserta didik berperilaku negatif. Para guru lupa dan mengabaikan perkembangan kepribadian peserta didik, serta lupa memberikan pujian kepada mereka yang berbuat baik, dan tidak membuat masalah. Para guru baru memberikan perhatian kepada peserta didik ketika ribut, tidak memperhatikan, atau mengantuk di kelas, sehingga menunggu peserta didik berperilaku buruk;

3)   menggunakan destructive discipline. Para guru sering memberikan tugas, tetapi tidak pernah memberikan umpan balik terhadap tugas-tugas yang dikerjakan;

4)   merasa paling pandai. Hal ini muncul karena adanya anggapan bahwa peserta didik dipandang sebagai gelas kosong yang perlu diisi air ke dalamnya. Kondisi seperti ini sangat menyesatkan, karena saat ini peserta didik dapat belajar melalui internet dan berbagai media massa, yang mungkin guru belum menikmatinya;

Berdasarkan hal tersebut, akibat yang akan di rasakan siswa adalah acuh terhadap pelajaran matematika, maka dari itu penulis semakin terdorong untuk melakukan penelitian dengan memfokuskan pada memerhatikan perkembangan siswa melalui metode student facilitator and explaining dengan siklus sistematis mulai dari langkah-langkah perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan evaluasi analisis yang intensif, cermat tentang penampilan mengajar yang realistik serta bertujuan untuk mengadakan perubahan dengan cara rasional.

Melihat kondisi demikian dan memerhatikan keberadaan sekolah guna meningkatkan pemahaman matematik siswa MTs Ash-Shiddiqiyyah Cirebon, peneliti menggunakan metode Student facilitator and explaining sebagai bentuk kegiatan pembelajaran Matematika di kelas. Student facilitator and explaining suatu metode pembelajaran alternatif kepada siswa dalam hal belajar siswa mempresentasikan gagasan kepada rekan siswa lainnya, seorang guru akan mengimbangi sebagaimana keinginana siswa dalam belajar mengajar tanpa memberikan tugas yang kemungkinan besarnya tidak dikerjakan karena terbatasnya waktu disebabkan banyak kegiatan lain yang harus dilaksanakan.

Langkah – langkah yang dapat dilakukan dalam model pembelajaran Student facilitator and explaining sebagai berikut :

  1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
  2. Guru menyajikan materi
  3. Peserta didik dapat kesempatan untuk menjelaskan kepada peserta didik lainnya
  4. Guru menyimpulkan gagasan dari peserta didik
  5. Guru menerangkan semua materi yang disajikan saat itu.
  6. Penutup (Hanafiah, 2008:46)

Metode student facilitator and explaining merupakan suatu metode yang memberikan kesempatan kepada siswa atau peserta untuk mempresentasikan ide atau pendapat pada rekan peserta lainnya (Warock, 2008). Metode student facilitator and explaining mempunyai kelebihan yaitu siswa diajak untuk dapat menerangkan kepada siswa lain, siswa dapat mengeluarkan ide-ide yang ada di pikirannya sehingga lebih dapat memahami materi tersebut.

Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik membuat penelitian yang berjudulUPAYA MENINGKATKAN PEMAHAMAN MATEMATIK SISWA MELALUI METODE STUDENT FACILITATOR AND EXPLAINING “. (Penelitian Tindakan Kelas Di Kelas VII A MTs Ash-Shiddiqiyyah Cirebon)

  1. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas peneliti mencoba merumuskan masalah yaitu:

  1. Bagaimana aktivitas siswa dan guru Kelas VII A MTs Ash-Shiddiqiyyah Cirebon pada setiap siklus pembelajaran matematika melalui metode Student facilitator and explaining pada pokok bahasan Aljabar?
  2. Bagaimana kemampuan pemahaman matematika setiap siswa Kelas VII A MTs Ash-Shiddiqiyyah Cirebon pada setiap siklus pembelajaran matematika melalui metode Student facilitator and explaining pada pokok bahasan Aljabar?
  3. Bagaimana kemampuan pemahaman matematika setiap siswa Kelas VII A MTs Ash-Shiddiqiyyah Cirebon pada seluruh siklus pembelajaran matematika melalui metode Student facilitator and explaining pada pokok bahasan Aljabar?
  1. Bagaimana sikap setiap siswa Kelas VII A MTs Ash-Shiddiqiyyah Cirebon terhadap proses pembelajaran pada pokok bahasan Aljabar dengan metode Student facilitator and explaining?
  1. Tujuan Penelitian

Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis metode Student facilitator and explaining dalam peningkatan pemahaman matematik siswa dalam pembelajaran matematika. Sedangkan secara khusus tujuan untuk mengetahui:

  1. Aktivitas siswa dan guru Kelas VII A MTs Ash-Shiddiqiyyah Cirebon pada setiap siklus pembelajaran matematika melalui metode Student facilitator and explaining pada pokok bahasan Aljabar.
  2. Kemampuan pemahaman matematika setiap siswa Kelas VII A MTs Ash-Shiddiqiyyah Cirebon pada setiap siklus pembelajaran matematika melalui metode Student facilitator and explaining pada pokok bahasan Aljabar.
  3. Kemampuan pemahaman matematika setiap siswa Kelas VII A MTs Ash-Shiddiqiyyah Cirebon pada seluruh siklus pembelajaran matematika melalui metode Student facilitator and explaining pada pokok bahasan Aljabar.
  4. Sikap setiap siswa Kelas VII A MTs Ash-Shiddiqiyyah Cirebon terhadap proses pembelajaran pada pokok bahasan Aljabar dengan metode Student facilitator and explaining
  1. Manfaat Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian yang hendak dicapai, maka penelitian ini diharapkan mempunyai manfaat atau kegunaan dalam pendidikan baik secara langsung ataupun tidak langsung. Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Manfaat Teoritis

Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan kepada bidang pendidikan matematika dan dapat mendukung teori yang telah ada tentang metode pembelajaran dan prestasi belajar.

2. Manfaat Praktis

Secara praktis diharapkan hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai berikut :

a. Memberikan masukan kepada guru dalam menentukan metode pembelajaran yang tepat.

b. Memberi sumbangan informasi untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah lanjutan pertama.

c. Bagi peneliti sebagai sarana untuk menerapkan ilmu yang diperoleh dari bangku kuliah, serta sebagai upaya untuk mengembangkan pengetahuan, sekaligus dapat menambah wawasan, pengalaman dalam tahapan proses pembinaan diri sebagai calon pendidik.

 

  1. Kerangka Pemikiran

Pada penelitian ini, materi yang akan dibahas yaitu tentang  Aljabar merupakan salah satu pokok bahasan matematika yang dibahas pada kelas VII semester ganjil yang mempunyai standar kompetensi sebagai berikut: Memahami bentuk aljabar, persamaan dan pertidaksamaan linear satu variabel. Kompetensi dasar yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah mengenali bentuk aljabar dan unsur unsurnya, melakukan operasi pada bentuk aljabar, menyelesaikan pesamaan linear satu variabel, menyelesaikan pertidaksamaan linear satu variabel.

Salah satu tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pemahaman matematika siswa. Pengertian paham dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah seorang dikatakan paham terhadap sesuatu apabila orang tersebut mampu mengerti benar tentang sesuatu itu. Dalam hal ini, siswa dikatakan paham tentang materi Aljabar jika siswa dapat mengenali bentuk aljabar dan unsur unsurnya, melakukan operasi pada bentuk aljabar, menyelesaikan pesamaan linear satu variabel, menyelesaikan pertidaksamaan linear satu variabel.

Adapun jenis pemahaman yang akan dikaji dalam penelitian ini yaitu pemahaman instrumental dan pemahaman relasional. Menurut Skemp (Sumarmo, 1987: 24-25) pemahaman instrumental sejumlah konsep diartikan sebagai pemahaman atas konsep yang saling terpisah dan hanya hapal rumus dalam perhitungan sederhana. Sebaliknya pada pemahaman relasional termuat suatu skema atau struktur yang  dapat digunakan pada penyelesaian masalah yang lebih luas. Dalam pemahaman   relasional, sifat pemakaiannya lebih bermakna.

Untuk melihat kemampuan pemahaman matematika siswa di dalam pembelajaran, terdapat beberapa indikator kompetensi berpikir matematika pada aspek pemahaman matematika, antara lain:

  1. Pemahaman induktif terdiri dari pemahaman mekanikal, instrumental (melaksanakan perhitungan rutin), komputasional (algoritmik), knowing how to (menerapkan rumus pada kasus serupa).
  2. Pemahaman deduktif terdiri dari pemahaman rasional (membuktikan kebenaran), relasional (mengingat satu konsep dengan konsep lainnya), fungsional (mengerjakan kegiatan matematika secara sadar), dan memperkirakan satu kebenaran tanpa ragu.
  3. Pemahaman relasional, menurut Kilppatrick dan findel yaitu:

1)      Kemampuan menyatakan ulang konsep yang telah dipelajari.

2)      Kemampuan mengklasifikasikan objek-objek berdasarkan dipenuhi atau tidaknya persyaratan yang membentuk konsep tersebut.

3)      Kemampuan menerapkan konsep secara algoritma.

4)      Kemampuan memberikan contoh dan kontra contoh dari konsep yang telah dipelajari.

5)      Kemampuan menyajikan konsep dalam berbagai macam bentuk representatif matematika.

6)      Kemampuan mengaitkan berbagai konsep matematika.

7)      Kemampuan mengembangkan syarat perlu dan syarat cukup suatu konsep.

 

Adapun Indikator yang hendak dicapai dalam penelitian ini, antara lain:

  1. Menemukan masalah mengenai Aljabar.
  2. Kemampuan menyelesaikan soal bentuk Aljabar.
  3. Kemampuan menyatakan ulang konsep yang telah dipelajari.

Konsep pembelajaran matematika di sekolah yang akan diteliti di anggap kurang menunjang untuk pemahaman matematik siswa, siswa mengalami kesulitan disebabkan guru akan melanjutkan materi pelajaran tanpa mengetahui siswanya apakah sudah memahami materi yang di ajarkan sebelumya atau tidak, sehingga siswa yang tidak paham mengenai materi yang telah diajarakan akan merasa ketinggalan. Dalam hal ini peneliti akan mencoba menerapkan metode student facilitator and explaining dalam pembelajaran matematika di kelas diharapkan akan memudahkan siswa dalam memahami materi yang diajarkan.

Metode student facilitator and explaining merupakan suatu metode yang memberikan kesempatan kepada siswa atau peserta untuk mempresentasikan ide atau pendapat pada rekan peserta lainnya (Warock, 2008). Metode student facilitator and explaining mempunyai kelebihan yaitu siswa diajak untuk dapat menerangkan kepada siswa lain, siswa dapat mengeluarkan ide-ide yang ada di pikirannya sehingga lebih dapat memahami materi tersebut.

Langkah – langkah yang dapat dilakukan dalam model pembelajaran Student facilitator and explaining sebagai berikut :

  1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.

Kompetensi yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah mengenali bentuk aljabar dan unsur unsurnya, melakukan operasi pada bentuk aljabar, menyelesaikan pesamaan linear satu variabel, menyelesaikan pertidaksamaan linear satu variabel.

  1. Guru menyajikan materi.

Pada siklus I Guru akan menyajikan materi mengenai bentuk Aljabar dan unsur-unsurnya serta operasi pada bentuk Aljabar, pada siklus II guru akan menyajikan materi persamaan linear satu variabel, pada siklus III guru akan menyajikan materi pertidaksamaan linear satu variabel.

  1. Peserta didik dapat kesempatan untuk menjelaskan kepada peserta didik lainnya.

Peserta didik memulai aktivitasnya yaitu menjelaskan kepada peserta didik lainnya dengan cara menyelesaikan soal bentuk Aljabar di papan tulis, seandainya peserta didik tidak dapat menyelesaikan soal bentuk aljabar di papan tulis maka akan di bantu oleh temannya dengan cara maju di depan kelas dua-duanya sampai maksimal empat orang jika masih juga tidak bisa menyelesaikannya maka akan di ganti perserta didik berikutnya, peserta didik yang duduk dimohon untuk memperhatikan temannya yang sedang maju ke depan.

  1. Guru menyimpulkan gagasan dari peserta didik

Setelah selesai menyelasaikan soal bentuk Aljabar guru mengoreksi dan menyimpulkan gagasan dari peserta didik.

  1. Guru menerangkan semua materi yang disajikan saat itu.

Guru akan menerangkan materi yang di sajikan saat itu dengan harapan siswa memahami materi yang disajikan oleh Guru.

  1. Penutup.

. Adapun kerangka pemikiran dari penelitian ini disajikan pada Gambar 1.1.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1.1.  Kerangka Pemikiran

  1. Langkah-langkah Penelitian

1. Jenis Data

Jenis data yang digunakan untuk memecahkan permasalahan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif dan data kualitatif, data kualitatif bersumber pada hasil observasi dan angket skala sikap, sedangkan data kuantitatif diperoleh dari hasil tes (evaluasi siklus I, II, III dan post test) dan akan di analisis melalui perhitungan statistik.

2. Sumber Data

a. Lokasi Penelitian

Sekolah yang dijadikan lokasi penelitian tindakan kelas adalah MTs Ash-Shiddiqiyyah    Cirebon, pemilihan ini didasarkan pada:

1)      MTs Ash-Shiddiqiyyah Cirebon adalah sekolah yang telah menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan penelitian ini berpijak pada kurikulum tersebut

2)      Hasil studi pendahuluan yang dilakukan peneliti menunjukkan bahwa kemampuan pemahaman dan penguasaan materi matematika siswa kelas VII A MTs Ash-Shiddiqiyyah Cirebon kurang menunjang, sehingga perlu diupayakan solusi untuk meningkatkannya.

b. Subjek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah MTs Ash-Shiddiqiyyah Cirebon kelas VII A sebanyak 40 siswa yang memiliki kemampuan heterogen.

3. Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian tindakan kelas (classroom action research). Yang dimaksud dengan penelitian tindakan kelas (PTK) menurut Suyanto (1996:4) adalah suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu agar dapat memperbaiki dan meningkatkan praktek-praktek pembelajaran di kelas secara lebih profesional.

Penelitian tindakan kelas dilaksanakan dalam bentuk proses pengkajian berdaur (cyclical) terdiri dari 4 tahap yaitu:

(a) Perencanaan (planning);

(b) Tindakan (acting);

(c) Pengamatan (observing);

(d) Refleksi (reflecting).

Setelah melakukan refleksi atau perenungan mencakup analisis sintesis dan penilaian terhadap hasil pengamatan proses serta hasil tindakan tadi, biasanya muncul permasalahan baru yang perlu mendapat perhatian serta mengidentifikasi hal-hal yang perlu diperbaiki sehingga pada gilirannya perlu dilakukan perencanaan ulang. Alur penelitian tindakan kelas yang akan dilakukan dalam penelitian ini dibagi dalam tiga siklus seperti yang disajikan pada Gambar 1.2

4. Prosedur Penelitian

Dalam prosedur penelitian ini ada beberapa tahapan yang dilakukan yaitu:

a.   Identifikasi Masalah

Identifikasi masalah dilakukan dengan cara melakukan observasi dan berdiskusi dengan guru matematika, hal ini bertujuan untuk mengkaji dan memberikan solusi terhadap permasalahan-permasalahan yang terjadi dan dialami oleh guru dalam pembelajaran di kelas. Adapun masalah yang terjadi yaitu :

(1) kebiasaan guru yang masih cenderung mendominasi proses pembelajaran serta siswa kurang aktif dan komunikatif di dalam menyelesaikan masalah yang diberikan guru

(2) kemampuan pemahaman matematik siswa kurang dan sebagian besar guru     masih    menerapkan model pembelajaran konvensional (tradisional).

  1. Perencanaan atau Persiapan Tindakan

1)            Peneliti menyusun rencana tindakan pembelajaran yang akan  dibagi ke dalam tiga siklus yaitu siklus I, siklus II dan siklus III.

2)            Pada siklus I akan membahas materi tentang Keliling Persegi Panjang dan Persegi. Pada siklus II akan membahas materi tentang Aljabar Panjang. Pada siklus III akan membahas materi tentang Aljabar.

3)            Membuat satuan pembelajaran matematika dengan materi pokok Persegi Panjang dan Persegi.

4) Membuat bahan ajar yang berorientasi pada model pembelajaran student facilitator and explaining

5)            Membuat perangkat tes

6)            Membuat pedoman observasi untuk siswa dan guru serta skala sikap

7)            Membuat jadwal kegiatan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1.2. Prosedur Penelitian Tindakan Kelas

c.   Pelaksanaan Tindakan

1) Melaksanakan pembelajaran matematika dengan menggunakan metode student facilitator and explaining

2)            Pada saat proses pembelajaran berlangsung, dilaksanakan observasi oleh observer terhadap aktivitas siswa dan guru sesuai dengan format yang telah ditetapkan

3)            Melaksanakan tes formatif pada setiap akhir siklus I, siklus II, dan siklus III

4)            Melaksanakan post test setelah selesai pelaksanaan seluruh siklus

5)            Menyebarkan skala sikap pada akhir pembelajaran

d.   Evaluasi

1). Pelaksanaan tes

2). Observasi siswa dan guru

3). Skala sikap untuk siswa

e.   Analisis dan Refleksi

Refleksi yaitu proses berpikir untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan dari apa yang telah dilakukan serta melihat kembali aktivitas yang sudah dilakukan berdasarkan hasil observasi dan temuan dikelas pada saat pembelajaran berlangsung. Refleksi dilakukan dengan cara mengidentifikasi kembali aktivitas yang telah dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung pada tiap siklus, menganalisis data hasil evaluasi dan mencari solusi serta menyusun perbaikan untuk tindakan selanjutnya berdasarkan hasil analisis kegiatan refleksi yang dilakukan oleh peneliti.

  1. Pelaksanaan Tindakan Tercapai

5. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian digunakan untuk mengukur nilai variabel yang akan diteliti. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah observasi dan tes.

  1. Tes

Tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes formatif dan post test Tes formatif diberikan setiap akhir siklus yaitu untuk mengetahui tingkat penguasaan konsep atau daya serap siswa terhadap materi yang telah dipelajari. Sedangkan post test diberikan setelah seluruh siklus pembelajaran berakhir dengan tujuan untuk mengetahui hasil belajar siswa selama pembelajaran dengan menggunakan metode student facilitator and explaining tersebut.

Tes yang digunakan berbentuk tes uraian, sedangkan banyaknya soal yang diberikan kepada siswa disesuaikan dengan indikator pembelajaran pada tiap siklus yaitu untuk tes formatif pada siklus I, II dan III diberikan sebanyak 2 soal yang mencakup indikator pemahaman dan untuk post test diberikan setelah seluruh siklus berakhir sebanyak 3 soal dari 5 soal yang diujicobakan. Adapun kriteria penilaian untuk setiap butir soal tampak pada tabel 1.1

Tes formatif yang diberikan tidak diujicobakan terlebih dahulu sedangkan untuk post test dilakukan uji coba soal. Setelah data hasil uji coba terkumpul kemudian dihitung validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran dan daya beda.

1)      Menentukan Indeks Kesukaran Butir Soal dengan Rumus

IK =

Keterangan:    IK    = indeks kesukaran

= jumlah jawaban siswa

SMI = skor maksimal ideal

NA = banyak testee

Tabel 1.1. Kriteria Penafsiran Indeks Kesukaran

Kriteria Penafsiran Indeks Kesukaran

 

IK= 0,00 soal terlalu sukar

 

0,00  IK  0,30 soal sukar
0,30 < IK  0,70 soal sedang
0,70 < IK  1,00 soal mudah
IK  1,00 soal terlalu mudah

 

 

 

Suherman (1990:213)

2)      Menentukan Daya Pembeda Butir Soal () dengan Rumus

 

Keterangan:

= daya beda

= jumlah jawaban siswa kelompok atas yang benar

= jumlah jawaban siswa kelompok bawah yang benar

SMI = skor maksimal ideal

NA = banyak testee

Tabel 1.2. Kriteria Penafsiran Daya Pembeda

Kriteria Penafsiran Daya Pembeda
Dp  0,00 sangat jelek
0,00 < Dp   0,20 jelek
0,20 < Dp   0,40 cukup
0,40 <  Dp  0,70 baik
0,70 < Dp  1,00 sangat baik

Suherman (1990:202)

3)      Menentukan Validitas dengan Rumus

Menhitung koefesien korelasi dengan menggunakan rumus product moment sebagai berikut:


 

Keterangan :  = koefisien korelasi antara variabel X dan Y, dua variabel yang dikorelasikan

N =  banyak siswa

X =  jumlah skor seluruh siswa tiap item soal

Y =  jumlah skor seluruh item soal tiap siswa

Tabel 1.3. Kriteria Penafsiran Validitas

Kriteria Penafsiran Validitas
0,80 <  1,00 validitas sangat tinggi
0,60 <  0,80 validitas tinggi
0,40 <  0,60 validitas sedang
0,20 <  0,40 validitas rendah
0,00 <  0,20 validitas sangat rendah
0,00 tidak valid

 

 

 

Suherman (1990:147)

4)      Menentukan Reliabilitas dengan Rumus :

=

Keterangan :     = reliabilitas tes

= jumlah varians skor tiap item

= varians total

n         =  banyak soal

Tabel 1.4. Kriteria Penafsiran Reliabilitas:

Kriteria Penafsiran Reliabilitas
0,20 reliabilitas sangat rendah
0,20 <   0,40 reliabilitas rendah
0,40 <   0,60 reliabilitas sedang
0,60 <   0,80 reliabilitas tinggi
0,00 <  0,20 validitas sangat rendah
0,80 <   1,00 reliabialitas sangat tinggi

Suherman (1990 :177)

b. Observasi

Observasi digunakan untuk mengamati aktivitas siswa dan aktivitas guru selama proses pembelajaran matematika berlangsung. Alat bantu yang digunakan adalah lembar observasi aktivitas belajar siswa dan lembar observasi aktivitas guru. Aktivitas siswa selama pembelajaran diamati dalam selang waktu 10 menit dengan menggunakan lembaran khusus, begitu pula dengan aktivitas guru diobservasi dengan lembaran yang telah disediakan. Dalam mengamati aktivitas siswa dan guru, peneliti dibantu oleh seorang guru matematika MTs Ash-Shiddiqiyyah dan satu orang rekan kuliah sebagai observer pada saat penelitian dilaksanakan.

Adapun indikator aktifitas siswa dalam kelompok dan aktifitas guru yaitu sebagai berikut:

1. Indikator aktifitas siswa dalam kelompok

a) Konsentrasi mengikuti kegiatan proses pembelajaran (KMP)

b) Antusias dalam mengerjakan soal yang diberikan (AMS)

c) Aktif dalam diskusi kelompok (ADK)

d) Berbagi ide dengan teman kelompok/kelas (BIT)

2. Indikator aktifitas guru

a) Menyampaikan tujuan pembelajaran

b) Memotivasi siswa

c) Menjelaskan informasi tentang materi yang akan diajarkan

d) Mengetahui paham tidaknya siswa dalam menerapkan konsep.

c. Skala Sikap

Skala sikap ini berbentuk pernyataan yang berjumlah 20 butir soal terdiri dari 10 butir soal yang mengandung pernyataan positif dan 10 butir soal yang mengandung pernyataan negatif. Dalam penyusunan skala sikap ini, peneliti menggunakan skala Likert di mana pernyataan yang diajukan memiliki empat alternatif jawaban yaitu sangat setuju, setuju, tidak setuju, dan sangat tidak setuju. Adapun indikator sikap yang diamati yaitu:

  1. Kesukaan siswa terhadap model pembelajaran yang dilakukan
  2. Kesungguhan siswa mengikuti proses pembelajaran yang dilakukan
  3. Motivasi belajar siswa terhadap model pembelajaran yang dilakukan
  4. Menunjukkan persepsi terhadap pemecahan matematik siswa
  5. Menunjukkan semangat dalam mengerjakan soal-soal yang diberikan
  6. Cara mengajar guru
  7. Penggunaan alat bantu dalam pembelajaran
  8. Model pembelajaran yang digunakan

6. Teknik Pengumpulan Data

Secara garis besar teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 1.5.

Tabel 1.5. Teknik Pengumpulan Data

NO. SUMBER  DATA JENIS DATA TEHNIK PENGUMPULAN DATA INSTRUMEN YANG DIGUNAKAN
1. Siswa Hasil belajar pada aspek pemahaman matematika Tes formatif pada siklus I, II dan III serta Post-Test Perangkat tes
2. Siswa Aktivitas Siswa Observasi Lembar observasi aktivitas siswa
3. Guru Langkah-langkah pembelajaran Observasi Lembar observasi
4. Siswa Sikap siswa terhadap pembelajaran Skala sikap Skala sikap

 

 

7. Analisis Data

Setelah data terkumpul, dilakukan analisa data. Analisa data ini dibagi menjadi tiga bagian:

1)      Untuk Mengetahui Aktivitas Siswa dan Guru Pada Seluruh Siklus Pemebelajaran Matematika

Lembar observasi aktivitas siswa dinilai berdasarkan kriteria penilaian dengan ketentuan nilai 4 (Amat Baik), 3 (Baik), 2 (Cukup) dan 1 (Tidak Baik) didapat untuk setiap aktivitas tersebut kemudian dihitung rata-ratanya. Untuk mengetahui rata-rata persentase aktivitas siswa digunakan rumus sebagai berikut:

 

Kriteria Penilaian:

Baik     : 2,45 – 3,0 (81,7% – 100%)

Cukup : 1,45 – 2,44 (48,3% – 81,3 %)

Kurang            : 0,00 – 1,44 (0% – 48%)                                                     (Jihad, 2006: 32)

Sedangkan kriteria penilaian untuk lembar observasi aktivitas guru meliputi amat, baik, cukup dan tidak baik.

2)      Untuk Mengetahui Kemampuan Pemahaman Matematika Siswa Pada Setiap Siklus Pembelajaran Matematika

Analisis tes kemampuan pemahaman matematika siswa pada setiap siklus pembelajaran digunakan untuk menjawab rumusan masalah no. 2 dan 3. Tes yang dilakukan terdiri dari tes di setiap akhir siklus (tes formatif) dan post test. Analisa dilakukan dengan menggunakan kriteria belajar tuntas. Kriteria yang berlaku di MTs Ash-Shiddiqiyyah Cirebon yaitu siswa dinyatakan telah tuntas belajar jika sekurang-kurangnya dapat mengerjakan soal dengan benar sebanyak 68%. Dan sebuah kelas dinyatakan telah tuntas belajar secara klasikal jika 85% dari jumlah siswa kelas itu telah mencapai penguasaan konsep 68%. Apabila siswa yang mencapai tuntas hanya mencapai 75%, maka hasil belajarnya dikatakan cukup. Hasil belajar dikatakan kurang jika persentase anggota yang tuntas kurang dari 68%. Untuk melakukan perhitungannya, maka digunakan rumus sebagai berikut:

a)      Ketuntasan Belajar Secara Individu (KI)

 

b)      Ketuntasan Belajar Secara Klasikal (KK)

 

Untuk mengetahui apakah materi pelajaran dapat dilanjutkan atau tidak dapat dilihat dari daya serap klasikal siswa. Jika daya serap belajar klasikal siswa ≥68% maka materi pelajaran sudah diperbolehkan untuk dilanjutkan. Rumus yang digunakan untuk mengetahui daya serap klasikal siswa adalah:

 

Sedangkan untuk keperluan mengklasifikasikan kualitas pemahaman matematika siswa, peniliti menggunakan penilain sistem PAP skala lima menurut Suherman (2001 : 236) yang dapat dilihat pada Tabel 1.6.

Rumus yang digunakan untuk melihat pengkategorian tersebut adalah:

Rata-rata Kemampuan Pemahaman Matematika (KPM) siswa

 

Tabel 1.6. Klasifikasi Kualitas kemampuan Pemahaman Matematika Siswa

Persentase Rentang Nilai (%) Klasifikasi
90 ≤ A ≤ 100 Sangat Tinggi
75 ≤ B < 90 Tinggi
55 ≤ C < 75 Cukup
40 ≤ D < 55 Rendah
00 ≤ E < 40 Sangat Rendah

 

 

 

 

Untuk mengetahui kemampuan pemahaman matematika siswa tiap siklus dan setelah selesai mengikuti seluruh siklus dapat dilihat dari persentase rata-rata pemahaman matematika siswa.

Adapun kriteria pemberian skor untuk tes kemampuan pemahaman berpedoman pada Holistic Scoring Rubrics. Kriteria pemberian skor diuraikan pada Tabel 1.7.

Untuk mengetahui Kemampuan Pemahaman Matematika Siswa Pada Seluruh Siklus Pembelajaran Matematika

Diperoleh dari rata-rata kemampuan pemahaman matematika siswa hasil post test yang dilakukan setelah siswa diberi perlakuan (siklus I, II dan III). Cara perhitungannya sama dengan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah kedua.

 

 

Tabel 1.7. Kriteria Penilaian Pemahaman

Tingkat Pemahaman Kriteria Penilaian Nilai
Paham seluruhnya Jawaban benar dan mengandung seluruh konsep ilmiah 4
Paham sebagian Jawaban benar dan mengandung paling sedikit satu konsep ilmiah serta tidak mengandung suatu kesalahan konsep 3
Miskonsepsi sebagian Jawaban memberikan sebagian informasi yang benar tetapi juga menunjukkan adanya kesalahan konsep dalam menjelaskannya 2
Miskonsepsi Jawaban menunjukkan kesalahan pemahaman yang mendasar tentang konsep yang dipelajari 1
Tidak paham Jawaban salah, tidak relevan atau jawaban hanya mengulang pertanyaan serta jawaban kosong 0

(MKPBM UPI, 2001: 91)

Adapun kriteria pemberian skor untuk tes kemampuan pemahaman akhir siklus atau post test berpedoman pada penskoran tes kemampuan pemahaman matematika yang diadaptasi dari Febriani. Kriteria pemberian skor diuraikan pada Tabel 1.8.

Tabel 1.8. Pedoman Memberikan Skor Tes Kemampuan Pemahaman

Matematika Siswa Untuk Post Test

No Indikator Pemahaman Konsep Matematika Skor
Soal
Mudah Sedang Sukar
Menemukan masalah dari materi atau permasalahan matematika dalam materi Aljabar. 2 4 1
Merumuskan masalah yang didapat.. 2 3 5
Menyelesaikan operasi hitung yang didapat. 1 3 9
Skor Total 5 10 15

(Adaptasi dari Febriani, 2008: 20)

3)      Skala Sikap

Skala sikap digunakan untuk menjawab rumusan masalah yang ke empat mengenai sikap terhadap metode facilitator and explaining yang dilakukan dengan menganalisis lembar skala sikap. Data skala sikap yang telah terkumpul dihitung dengan penentuan skor skala sikap secara aposteriori, yaitu setiap item dihitung berdasarkan jawaban responden, sehingga skor tiap item berbeda. Berikut ini adalah proses penentuan skor tiap item berdasarkan jawaban responden (Azwar, 2005: 142-145).

a)      Langkah pertama memuat frekuensi jawaban responden untuk tiap kategori respon (f);

b)      Langkah kedua mencari proporsi, dengan cara membagi setiap frekuensi (f) dengan banyaknya responden (N);

c)      Langkah ketiga mencari proporsi kumulatif (pk). Proporsi kumulatif adalah proporsi dalam suatu kategori ditambah dengan proporsi semula kategori di sebelah kirinya;

d)     Langkah ke empat menentukan pk-tengah yaitu titik tengah proporsi kumulatif, rumus yang digunakan;

e)      Langkah ke lima mencari nilai z dengan melihat harga z untuk masing-masing pk-tengah dengan melihat tabel deviasi normal;

f)       Langkah ke enam mencari nilai (-z), dimana z adalah nilai terkecil dari hasil perhitungan pada langkah ke lima;

g)      Langkah ke tujuh mencari nilai (z+(-z)), dengan cara menjumlahkan nilai z untuk tiap kategori dengan nilai (-z) yang didapat pada langkah keenam;

h)      Langkah terakhir menentukan skor dengan melakukan pembulatan;

Setelah didapat skor untuk tiap item selanjutnya menentukan skor sikap siswa dan skor sikap netral siswa. Siswa memiliki sikap positif jika skor sikap siswa lebih besar dari sikap netral siswa dan sebaliknya jika skor sikap siswa lebih rendah dari sikap netral maka siswa memiliki sikap negatif.

About these ads
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s